Call me Naz..

Call me Naz..
ehehe..
Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 April 2010

Binge Eating Disorder

Disini, gw bakal bahas tentang Binge Eating Disorder (BED)..
Yyaa ini termasuk salah satu gangguan makan..
So, baca aja dee yyaa.. ehehe..


Pengertian

Binge eating disorder (BED) adalah gangguan makan paling biasa di Amerika Serikat, mempengaruhi 3,5% perempuan dan 2% laki-laki dan secara umum lebih dari 30% dari mereka mencari pengobatan untuk mengurangi berat badan. Walaupun ini belum juga diklasifikasikan sebagai sebuah gangguan makan yang terpisah/tersendiri, ini pertama kali diuraikan tahun 1959 oleh psikiater dan peneliti Albert Stunkert sebagai “Night Eating Syndrome” (NES), dan istilah “Binge Eating Disorder” diciptakan untuk menguraikan perilaku makan tipe “binging” yang sama tanpa komponen nocturnal (malam hari). BED biasanya mengarah ke obesitas walaupun ini dapat terjadi dalam berat normal individual. Mungkin ada faktor warisan genetik yang terlibat dalam berdiri sendirinya BED dari resiko-resiko obesitas lainnya dan ada juga insiden yang lebih tinggi dari psychiatric comorbidity (comorbidity: kehadiran simultan dari dua kondisi medis, seperti seseorang dengan schizophrenia dan penyalahgunaan obat-obatan), dengan persentase dari individual-individual dengan BED dan sebuah “Axis I Comorbid” gangguan psychiatric menjadi 78,9% dan untuk mereka dengan subklinikal BED, 63,6%.


Ciri-ciri

• Kadangkala tidak latihan mengontrol konsumsi makanan berlebihan.
• Makan seporsi makanan yang tidak wajar (sangat banyak) pada satu waktu, lebih banyak daripada yang akan dimakan oleh orang normal pada waktu yang sama.
• Waktu makan Binge lebih cepat daripada waktu makan orang normal.
• Makan sampai secara fisik tidak merasa nyaman dan muak pada banyaknya makanan yang baru dikonsumsi.
• Makan ketika depresi atau bosan.
• Makan dalam jumlah yang banyak bahkan ketika tidak begitu lapar.
• Biasanya makan sendiri selama masa binge, dalam tujuan untuk menghindari penemuan gangguan itu.
• Seringkali makan sendirian selama waktu makan normal, berhutang pada perasaan malu tentang makanan.
• Merasa menjijikan, depresi, atau berdosa setelah makan binge (binge eating).
• Secara cepat naik berat badan, dan/atau onset tiba-tiba dari obesitas.



Hubungan dengan gangguan makan lainnya

Gejala-gejala makan binge juga ada dalam bulimia nervosa. Kriteria diagnosis formalnya serupa dalam subjek itu, keharusan binge paling sedikit dua kali seminggu untuk periode minimum dari 3 bulan. Tidak seperti dalam bulimia, mereka penderita BED tidak memuntahkan kembali makanannya, cepat, atau melakukan olahraga berat setelah binge eating. Tambahan, tipikal berat normal penderita bulimia, adalah dibawah berat badan (yang seharusnya) tapi telah berberat badan lebih sebelumnya. Mereka penderita gangguan makan binge lebih seperti kelebihan berat badan atau obese.
Gangguan makan binge serupa, tapi berbeda dari kelebihan makan kompulsif. Mereka penderita BED tidak memiliki keharusan untuk makan berlebih dan tidak menghabiskan waktu banyak berfantasi tentang makanan. Kebalikannya, beberapa orang dengan gangguan makan binge memiliki perasaan negatif yang besar tentang makanan. Sama dengan gangguan makan lainnya, binge eating adalah sebuah “gangguan ekspresif”--sebuah gangguan yang merupakan sebuah ekspresi dari masalah psikologis yang lebih dalam. Beberapa peneliti percaya BED adalah bentuk yang lebih halus dari bulimia nervosa, sementara lainnya membantahnya bahwa ini adalah gangguan yang berbeda sendiri. Sekarang, DSM-IV mengkategorisasikan ini dibawah Eating disorder not otherwise specified (EDNOS), sebuah indikasi bahwa diperlukannya lebih banyak penelitian.


Peristiwa dan faktor resiko

Banyak orang dengan masalah ini adalah berberat badan lebih atau obese, tapi orang dari berat badan normal juga dapat memiliki gangguan ini.
Sekitar dua persen dari seluruh orang dewasa di Amerika Serikat (sama banyaknya dengan 4juta orang Amerika) memiliki gangguan makan binge. Sekitar sepuluh sampai lima belas persen orang yang agak obese atau mencoba untuk menurunkan berat badan sendirian atau melalui program komersial untuk menurunkan berat badan memiliki gangguan makan binge. Gangguan ini bahkan lebih lazim pada orang yang sama sekali obese.
Gangguan makan binge dua kali sama biasanya diantara perempuan juga antara laki-laki. Gangguan ini ditemukan dalam seluruh kebudayaan-etnis dan populasi rasial. Orang yang obese dan memiliki gangguan makan binge sering menjadi kelebihan berat badan pada usia lebih muda daripada mereka yang tanpa gangguan ini. Mereka mungkin juga kehilangan dan menaikkan kembali berat badan lebih sering, atau menjadi paranoid tentang menaikkan berat badan.


Penyebab

Tidak ada yang tahu dengan pasti apa yang menyebabkan gangguan makan binge. Sama banyak dengan setengah dari seluruh orang dengan gangguan makan binge telah depresi dalam masa lalunya. Apakah depresi yang menyebabkan gangguan makan binge, apakah gangguan makan binge yang menyebabkan depresi, atau apakah keduanya memiliki sebuah hubungan sebab-akibat, tidak diketahui pasti.
Point pemicu bisa jadi emosi seperti kebahagiaan, kemarahan, kesedihan atau kebosanan. Perilaku impulsif dan beberaoa masalah emosi lainnya dapat menjadi lebih biasa pada orang denga gangguan makan binge. Bagaimanapun, banyak orang juga mengklaim bahwa bingeing terjadi tanpa menghiraukan mood mereka. Ini juga tidak jelas apakah dieting dan binge eating berhubungan. Beberapa studi menunjukkan bahwa sekitar setengah dari seluruh orang dengan gangguan makan binge memiliki episode binge sebelum mereka mulai untuk diet.
Para peneliti juga mengatakan bahwa gangguan makan binge lebih biasa ditemukan antara atlet yang kompetitif seperti perenang atau pesenam yang bentuk badannya secara tetap menjadi contoh bagi publik/diperhatikan publik. Atlet-atlet yang terpengaruh dalam olahraga ini cenderung untuk membandingkan badan mereka sendiri dalam cara yang negatif dengan mereka yang merupakan teman satu timnya. Ada sebuah penelitian tentang bagaimana bahan kimia otak dan metabolism mempengaruhi gangguan makan binge, tapi studi ini adalah dalam tingkat lebih awalnya sendiri.


Komplikasi

Sementara orang cenderung untuk makan berlebih dari waktu ke waktu, kebiasaan konsisten dari konsumsi yang sering dari jumlah besar makanan dalam periode singkat dari waktu biasanya mengarah pada naiknya berat badan dan obesitas. Konsekuensi kesehatan problematis yang paling menonjol dari tipe gangguan makan ini dibawa oleh hasil kenaikan berat badan dari episode bingeing.
Orang dengan gangguan makan binge mungkin jadi sakit hak untuk sebuah kekurangan nutrisi yang pantas. Episode-episode bingeing biasanya memasukkan makanan yang tinggi lemak, gula, dan/atau garam, tapi rendah vitamin dan mineral. Individual biasanya sangat sedih tentang binge eating mereka dan mungkin jadi depresi. Mereka yang obese dan juga memiliki gangguan makan binge dalam esiko untuk diabetes tipe 2, tekanan darah tinggi (hypertension), tingkat kolesterol darah tinggi (hypercholesterolemia), penyakit kandung empedu, penyakit jantung, dan beberapa tipe dari kanker.
Banyak orang dengan gangguan makan binge telah mencoba untuk mengontrolnya sendiri, tapi tidak mampu untuk mengontrolnya dalam waktu lama. Beberapa orang melewatkan kerja, sekolah, atau kegiatan sosial untuk binge eat. Orang obese dengan gangguan makan binge sering merasa buruk tentang diri mereka dan mungkin menghindari pertemuan sosial. Mereka yang binge eat, apakah obese atau tidak, merasa malu, dan menyadari dengan baik gangguan pola makan mereka, dan mencoba untuk menyembunyikan masalah mereka. Seringkali mereka menjadi sangat baik dalam menyembunyikannya, bahkan teman dekat dan anggota keluarganya tidak menyadari bahwa mereka binge eat. Beberapa dari gejala yang biasa terjadi adalah:
• Makan makanan dalam jumlah besar, bahkan ketika secata fisik tidak lapar.
• Makan sampai merasa kekenyangan dan tidak nyaman.
• Makan sendirian keluar dari rasa malu pada kuantitas makanan yang sedang dimakan.
• Merasa menjijikkan, depresi, atau berdosa setelah makan.


Dieting

Orang yang tidak kelebihan berat badan harus menghindari dieting, karena ini kadang-kadang membuat binge eating mereka jadi lebih buruk. Dieting disini berarti melewatkan makan, makan tidak cukup kalori setiap hari, atau menghindari beberapa macam dari makanan, seperti karbohidrat atau lemak. Banyak orang dengan gangguan makan binge obese dan memiliki masalah kesehatan karena berat mereka. Orang dengan gangguan makan binge yang obese mungkin menemukan ini lebih susah untuk tetap dalam sebuah program menurunkan berat badan. Mereka juga mungkin kehilangan berat badan daripada orang lain, dan mungkin menaikkan berat badan lebih cepat dalam usaha untuk memperlambat metabolism. (ini bisa jadi lebih buruk ketika mereka juga memiliki masalah seperti depresi, kesulitan mengontrol perilaku mereka, dan masalah berhubungan dengan orang lain.) orang ini mungkin membutuhkan treatment (pengobatan) untuk gangguan makan binge sebelum mereka mencoba menurunkan berat badan. Dieting biasanya tidak berhasil untuk mereka dengan BED, mereka biasanya akan menaikkan kembali semua berat badan yang hilang, dan kadang-kadang lebih. Mereka dengan BED memiliki kesulitan yang lebih mengikuti treatment menurunkan berat badan tradisional.


Pengobatan (Treatment)

Orang dengan BED, apakah atau tidak mereka ingin untuk menurunkan berat badan, harus mencari pertolongan dari professional kesehatan termasuk tabib/dokter, nutrisionis, psikiater, psikolog, pekerja sosial klinis atau dengan menghadiri pertemuan 12-langkah Overeaters Anonymous. Bahkan mereka yang tidak kelebihan berat badan biasanya sedih dengan binge eating mereka, dan treatment bisa menolong mereka.
Walaupun profesional kesehatan mental mungkin jadi membiasakan diri pada ciri-ciri BED, banyak tabib/.dokter tidak mengangkat pertanyaan, apakah karena mereka tidak diinformasikan tentang kondisinya atau terlalu malu untuk bertanya tentang hal ini. Karena ini adalah gangguan psychiatric yang tidak diketahui di DSM-IV, ini susah untuk memperoleh insurance reimbursement untuk pengobatan.
Ada beberapa cara berbeda untuk memperlakukan BED. Cognitive-behavioral therapy mengajarkan orang bagaimana untuk menjaga pola makan mereka dan mengganti kebiasaan makan tidak sehat mereka. Ini juga mengajarkan mereka bagaimana untuk mengubah cara mereka berperan dalam situasi sulit. Interpersonal psychotherapy membantu orang untuk melihat hubungan mereka dengan teman dan keluarga dan membuat perubahan dalam area masalah. Drug therapy, seperti antidepressants, mungkin bisa berguna bagi beberapa orang.
Para peneliti tetap mencoba untuk menemukan pengobatan yang paling membantu atau berguna dalam mengontrol BED. Metode-metode yang disebutkan disini kelihatan sama bergunanya. Untuk orang yang kelebihan berat badan, sebuah program penurunan berat badan untuk meningkatkan kesehatan dan untuk membangun self-esteem, sama baiknya dengan konseling, menunjukkan dengan tepat akar dari masalah psikologis yang memicu episode binge mereka, mungkin menjadi pilihan terbaik.

Sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/Binge_Eating_Disorder

Perilaku yang Ingin Saya Bentuk (Teori Behavioristik Skinner)

BAB I. Perilaku yang Ingin Dibentuk/Dihilangkan

Perilaku yang ingin saya bentuk adalah perilaku yang tidak suka menunda-nunda sholat dan perilaku saya untuk tidak meninggalkannya. Dari segi agama yang saya anut, telah disebutkan bahwa sholatlah diawal waktu. Tetapi saya sering menundanya sehingga terkadang saya lupa waktu dan secara otomatis tidak menjalankan sholat tersebut. Berkali-kali saya dimarahi oleh kedua orang tua saya terutama Ayah saya. Karena beliau adalah orang yang sangat religius, maka mengharuskan semua anaknya untuk benar-benar menjalankan ibadah. Saya sendiri terkadang terfikir untuk menghilangkan perilaku menunda-nunda sholat ini yang lama-kelamaan menjadi kebiasaan ini dan ingin membentuknya menjadi lebih rajin dalam menjalankan sholat. Tetapi memang sangat susah untuk membentuk perilaku seperti ini.
Saya berharap dengan diadakannya rancangan pada BAB selanjutnya ini, perilaku saya ini bisa dibentuk atau setidaknya mengurangi perilaku saya yang suka menunda-nunda dan meninggalkan sholat ini. Agar saya menjadi anak yang lebih baik kedepannya bagi orang tua saya dan bagi agama.

BAB II. Rancangan

Rancangan yang dilakukan untuk mengatasi perilaku saya yang suka menunda sholat dan yang terkadang meninggalkan sholat, yaitu:
• Selalu berfikiran bahwa sholat itu adalah hal yang sangat mungkin dilakukan dibandingkan pekerjaan-pekerjaan yang lain yang tidak wajib.
• Menguatkan niat untuk mengerjakan sholat 5 waktu.
• Mencoba selalu mendahulukan sholat diatas keperluan-keperluan lain selama kondisi memungkinkan.
• Mengurangi waktu untuk bermalas-malasan.
• Langsung mengerjakan sholat ketika diingatkan oleh orang lain atau anggota keluarga.
• Melihat dan membandingkan diri saya dengan anggota keluarga saya yang lain yang lebih rajin dari saya dan menjadikannya acuan supaya saya tidak menunda sholat dan tidak meninggalkan sholat.
• Dilakukan dalam waktu 3 bulan. Diusahakan dalam waktu 3 bulan itu untuk mengerjakan sholat tanpa ditunda-tunda.

BAB III. Hasil

Rancangan tersebut dijalankan dan diterapkan. Hasilnya, saya sudah lumayan rajin dan langsung mengerjakan sholat begitu diingatkan oleh Ayah saya. Walaupun terkadang perilaku menunda-nunda dan meninggalkan sholat itu masih sering muncul ketika Ayah saya sedang tidak ada didekat saya, karena Ayah dan Ibu saya tinggal di Medan dan saya disini bersama kedua abang saya. Tetapi, saya sudah tergolong jauh lebih baik daripada saya yang dulu. Sekarang saya sudah membudidayakan bahwa sholat itu penting dan sesuatu yang wajib, dosa bila tidak dikerjakan dan apabila tidak mengerjakannya sama saja dengan membolehkan orang tua saya menghukum saya karena tidak menjalankan perintah agama yang sudah seharusnya itu.
Diri saya yang dulu yang suka berbohong pada Ayah saya bahwa saya sudah mengerjakan sholat dan sering merasa kesal bila diingatkan dan sering sekali sengaja meninggalkannya dan bisa dibilang hanya sholat maghrib yang tidak pernah tinggal setiap harinya, dan sholat shubuh yang kadang-kadang saya kerjakan. Sedangkan diri saya yang sekarang jauh lebih rajin daripada diri saya yang dulu tersebut. Saya sudah mulai menjalankan sholat tanpa harus diingatkan dan terkadang saya merasa puas akan hal itu.

BAB IV. Pembahasan

Seperti yang diketahui pada BAB-BAB sebelumnya bahwa perilaku yang ingin saya bentuk adalah sholat di awal waktu (tidak menunda-nunda sholat) dan rajin sholat 5 waktu (tidak meninggalkan sholat). Saya menggunakan teori Burrhus Frederic Skinner untuk membentuk perilaku saya tersebut. Sesuai dengan teori Skinner, tentang operants (Operant adalah sesuatu yang dihasilkan, dalam arti organisme melakukan sesuatu untuk menghilangkan stimulus yang mendorong langsung) dan respondents (Respondent adalah sesuatu yang dimunculkan, dimana organisme menghasilkan sebuah respondent sebagai hasil langsung dari stimulus spesifik). Oleh karena itu, saya akan coba membahas proses pembentukan perilaku yang ingin saya bentuk tersebut pada BAB ini.
Sejak kecil, dalam keluarga saya, orang tua saya mengajarkan bahwa agama dan pendidikan adalah yang paling penting. Yang memegang peranan penting dalam keluarga saya adalah Ayah saya selaku pemimpin dalam keluarga. Beliau selalu mengingatkan untuk sholat diawal waktu dan menjalankan sholat 5 waktu. Tetapi pada saat itu dikarenakan saya yang masih kecil dan memiliki tanggung jawab yang minim, Ayah saya masih membiarkan saya jika saya meninggalkan dan menunda-nunda sholat.
Ketika saya berumur 8 tahun, jika saya sholat, Ayah saya memberikan pujian dan menghadiahi saya makanan kesukaan saya, maka saya jadi menyenangi kegiatan sholat saya tersebut dengan mengerjakannya dan agar dilihat oleh orang tua saya sehingga saya diberikan makanan-makanan tersebut (dihubungkan dengan teori Skinner tentang penguatan atau reinforcement: Positive reinforcement, yaitu penyajian stimulus yang meningkatkan probabilitas suatu respon. Penguatan positif sebagai stimulus, dapat meningkatkan terjadinya pengulangan tingkah laku itu sedangkan penguatan negatif dapat mengakibatkan perilaku berkurang atau menghilang. Bentuk-bentuk penguatan positif adalah berupa hadiah (permen, kado, makanan, dll), perilaku (senyum, menganggukkan kepala untuk menyetujui, bertepuk tangan, mengacungkan jempol), atau penghargaan (nilai A, Juara 1 dan sebagainya).
Tetapi setelah saya beranjak besar sekitar umur 12 tahun, dan sudah mulai mengerti akan yang namanya agama, pola asuh orang tua saya mulai berubah. Ayah saya mulai memberikan hukuman kepada saya jika saya tidak mengerjakan sholat dengan memukul kaki saya dengan tangan atau dengan ancaman kaki saya akan dicambuk dengan tali pinggang (dihubungkan dengan teori Skinner tentang salah satu jenis stimulusnya: Hukuman, yaitu pemberian stimulus yang tidak menyenangkan misalnya : “Contradiction or reprimand”). Dengan adanya hukuman tersebut, saya jadi merasa takut dan secara langsung memberikan efek terhadap pembentukan perilaku saya tersebut. Saya jadi mulai mengerjakan sholat ketika diingatkan oleh orang tua saya, atau ketika orang tua saya sedang berada dirumah dan tidak memiliki keberanian untuk mencari alasan menundanya.
Ketika saya mulai jauh dari orang tua saya terutama Ayah saya, ternyata perilaku saya yang sudah agak terbentuk itu pelan-pelan menghilang lagi. Saya mulai berbohong untuk menghindari hukuman-hukuman yang diberikan oleh Ayah saya tersebut. Saya berbohong telah mengerjakan sholat, padahal sebenarnya saya tidak mengerjakannya (dihubungkan dengan teori Skinner tentang salah satu konsep Operant Conditioning: Extention, ialah proses penghentian kegiatan sebagai akibat dari ditiadakannya penguatan.). Hal itu sempat memberikan efek kemunduran bagi saya. Tetapi, begitu Ayah saya berada di dekat saya, dan mulai memarahi saya ketika saya ketahuan berbohong, maka saya pun kembali mengerjakan sholat dan mengerjakannya di awal waktu, saya mengalami kemajuan lagi pada perilaku yang ingin saya bentuk itu.
Akhirnya, sekarang, setelah saya mulai memiliki wawasan lebih luas tentang agama, dan Ayah saya sudah tidak memberikan pola asuh yang sama dengan yang dulu (ketika saya berumur 12 tahun), Ayah saya mulai menanamkan bahwa saya sudah besar dan bisa menentukan mana yang baik dan yang benar, dan memberikan penguatan positif (sesuai teori Skinner) dengan memberikan saya pujian jika sudah mengerjakan sholat di awal waktu dan mengingatkan sholat dengan cara-cara yang bisa diterima oleh saya yang sudah besar ini (tidak dengan memberikan hukuman lagi), perilaku sholat di awal waktu (tidak menunda-nunda sholat) dan rajin sholat 5 waktu (tidak meninggalkan sholat), itu lambat laun mulai bisa saya dekati (dihubungkan dengan teori Skinner tentang salah satu konsep Operant Conditioning: Shaping, ialah proses pembentukan tingkah laku yang makin mendekati tingkah laku yang diharapkan.). Saya merasa jauh lebih baik dengan perilaku saya yang sekarang dibandingkan dengan perilaku saya yang dulu. Walaupun perilaku yang ingin dibentuk tersebut belum berhasil, setidaknya saya sudah sampai pada tahap “Shaping” dalam teori Skinner.

Daftar Pustaka

V, Arya.2008.Teori Burrhus Frederic Skinner. http://aryaverdiramadhani.blogspot.com/2008/02/vj23ii2008-teori-burhuss-skinner.html.diakses 12April2010
R, Bambang.2009.Teori Asosiasi: Thondike dan Penguatan: Skinner. http://bambangriyantomath.wordpress.com/2009/05/29/teori-asosiasi-thondike-dan-penguatan-skinner/.diakses 12April2010

Jumat, 16 April 2010

Gejala Down Syndrome

Gejala atau tanda-tanda

Gejala yang muncul akibat sindrom down dapat bervariasi mulai dari yang tidak tampak sama sekali, tampak minimal sampai muncul tanda yang khas.

Penderita dengan tanda khas sangat mudah dikenali dengan adanya penampilan fisik yang menonjol berupa bentuk kepala yang relatif kecil dari normal (microchephaly) dengan bagian anteroposterior kepala mendatar. Pada bagian wajah biasanya tampak sela hidung yang datar, mulut yang mengecil dan lidah yang menonjol keluar (macroglossia). Seringkali mata menjadi sipit dengan sudut bagian tengah membentuk lipatan (epicanthal folds). Tanda klinis pada bagian tubuh lainnya berupa tangan yang pendek termasuk ruas jari-jarinya serta jarak antara jari pertama dan kedua baik pada tangan maupun kaki melebar.

Sementara itu lapisan kulit biasanya tampak keriput (dermatoglyphics). Kelainan kromosom ini juga bisa menyebabkan gangguan atau bahkan kerusakan pada sistim organ yang lain.

Karena ciri-ciri yang tampak aneh seperti tinggi badan yang relatf pendek, kepala mengecil, hidung yang datar menyerupai orang Mongolia, maka sering juga dikenal dengan Mongoloid.

Pada bayi baru lahir kelainan dapat berupa Congenital Heart Disease. kelainan ini yang biasanya berakibat fatal di mana bayi dapat meninggal dengan cepat. Pada sistim pencernaan dapat ditemui kelainan berupa sumbatan pada esophagus (esophageal atresia) atau duodenum (duodenal atresia).

Apabila anak sudah mengalami sumbatan pada organ-organ tersebut biasanya akan diikuti muntah-muntah. Pencegahan dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan kromosom melalui amniocentesis bagi para ibu hamil terutama pada bulan-bulan awal kehamilan. Terlebih lagi ibu hamil yang pernah mempunyai anak dengan sindrom down atau mereka yang hamil di atas usia 40 tahun harus dengan hati-hati memantau perkembangan janinnya karena mereka memiliki risiko melahirkan anak dengan sindrom down lebih tinggi.

Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Sindrom_down

Pengertian Down Syndrome

Sindrom down (bahasa Inggris: down syndrome) merupakan kelainan kromosom yang dapat dikenal dengan melihat manifestasi klinis yang cukup khas. Kelainan yang berdampak pada keterbelakangan pertumbuhan fisik dan mental anak ini pertama kali dikenal pada tahun 1866 oleh Dr.John Longdon Down. Karena ciri-ciri yang tampak aneh seperti tinggi badan yang relative pendek, kepala mengecil, hidung yang datar menyerupai orang Mongolia maka sering juga dikenal dengan Mongoloid. Pada tahun 1970an para ahli dari Amerika dan Eropa merevisi nama dari kelainan yang terjadi pada anak tersebut dengan merujuk penemu pertama kali syndrome ini dengan istilah sindrom down dan hingga kini penyakit ini dikenal dengan istilah yang sama.

Sindrom down merupakan kelainan kromosom yakni terbentuknya kromosom 21 (trisomy 21), Kromosom ini terbentuk akibat kegagalan sepasang kromosom untuk saling memisahkan diri saat terjadi pembelahan. Kelainan yang berdampak pada keterbelakangan pertumbuhan fisik dan mental anak ini pertama kali dikenal pada tahun 1866 oleh Dr.John Longdon Down.

Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Sindrom_down

Kamis, 11 Maret 2010

Penyebab Anak ADHD

Inilah Penyebab Anak Hiperaktif
Sejumlah penelitian telah dilakukan oleh para ahli di berbagai pelosok dunia untuk menyingkap penyebab pasti gangguan ini. Hasilnya, ada yang salah pada otak anak penderita Attention Deficit Hiperactive Disorder (ADHD).

Demi mendukung penelitian, para ahli telah menggunakan peralatan paling mutakhir untuk melakukan pencitraan otak. Misalnya, Positron Emission Tomography (PET), Single Photon Emission Computed Tomography (SPECT), serta Magnetic Resonance Imaging (MRI).

Diketahui memang ada yang salah pada otak anak Attention Deficit Hiperactive Disorder (ADHD). Kelainan pada otak ini bisa terjadi di bagian depan otak, namun bisa pula terjadi pada senyawa kimia penghantar rangsang atau neurotransmitter. Khususnya, dari jenis dopamin dan norepinefrin. Otak anak penderita ADHD, khususnya otak kanan, memiliki ukuran yang lebih kecil

Minum obat atau tidak? Sebenarnya, penanganan penderita ADHD bisa dilakukan dengan beberapa cara. Hanya saja, karena biang keladi dari gangguan ini adalah otak, mau tidak mau penanganannya ya dimulai dari otak.

Khusus penderita ADHD yang masih berusia di bawah lima tahun, biasanya ia diterapi perilaku dulu. Bentuk terapinya bisa berbeda-beda, karena sifatnya benar-benar case by case . Terapi ini bisa juga dilakukan oleh orang tua. Tentunya, setelah orang tua mendapat bimbingan dari psikiater anak. Bila terapi ini tidak membuahkan hasil, barulah obat diberikan.

Pada penderita autis dengan spektrum ADHD, ia harus menjalani dua macam terapi. Pertama, ABA ( Applied Behavioral Analysis), yaitu terapi yang meminta dia mengikuti semua aturan yang diberikan. Dalam setiap aturan, ada punishment dan reward. Kedua, SI ( Sensory Integration), yakni terapi untuk merangsang impuls sensorinya, sehingga anak dapat mengkoordinasikan gerakan otot tubuh sesuai perintah dari otak.

Obat, biasanya, diberikan belakangan karena hingga kini terapi obat masih banyak menimbulkan kontroversi di kalangan ahli. Apakah pemberian obat tidak akan menyebabkan ketergantungan nantinya? Memang dosis obat tergantung pada seberapa salah otak anak penderita ADHD. Dan, tidak tertutup kemungkinan, ia akan terus minum obat sampai dewasa. Meski begitu, biasanya dokter sudah memperhitungkan secara akurat dosis obat yang sesuai bagi pasiennya.

Sumber: http://www.ayahbunda.co.id/Artikel/Psikologi/Balita/inilah.penyebab.anak.hiperaktif/001/007/450/40/3

Riwayat yang Diduga Menderita ADHD

Riwayat yang Diduga ADHD:
1. Masa baby – infant
- Anak serba sulit
- Menjengkelkan
- Serakah
- Sulit tenang
- Sulit tidur
- Tidak ada nafsu makan

2. Masa prasekolah
- Terlalu aktif
- Keras kepala
- Tidak pernah merasa puas
- Suka menjengkelkan
- Tidak bisa diam
- Sulit beradaptasi dengan lingkungan

3. Usia sekolah
- Sulit berkonsentrasi
- Sulit memfokuskan perhatian
- Impulsif

4. Adolescent
- Tidak dapat tenang
- Sulit untuk berkonsentrasi dan mengingat
- Tidak konsisten dalam sikap dan penampilan

Sumber: http://netsains.com/2010/01/cara-cepat-membedakan-adhd-dan-autisme/

Rekomendasi dari AMERICAN ACADEMY OF PEDIATRICS (2000) tentang ADHD

Rekomendasi dari AMERICAN ACADEMY OF PEDIATRICS (2000) tentang ADHD adalah sbb:

* Pada anak berusia 6-12 tahun dengan:

1. inattention,
2. hyperactivity,
3. impulsivity,
4. academic underachievement,
5. behavior problems,

Maka dokter sebaiknya menyiapkan evaluasi untuk ADHD.

Sekadar tambahan, pada sebagian anak yang mengalami gangguan perilaku, terdapat komorbid atau tumpang tindih dengan gangguan lainnya (Desvi Yanti, 2005)

Komorbiditas biasanya juga terjadi dengan ADHD (Attention Deficit Hyperactive Disorders). Szatmari, Offord, dan Boyle (dalam Grainger 2003) menyebutkan sebanyak 20-40% anak penderita ADHD juga didiagnosis mengalami gangguan perilaku. Sejalan hal ini, Stewart, Cummings, Singer, dan DeBlois (dalam Grainger, 2003) menemukan bahwa 3 dari 4 anak dengan gangguan perilaku agresif ternyata juga hiperaktif, dan 2 dari 3 anak hiperaktif juga mengalami gangguan perilaku.

Secara akademis, anak yang mengalami masalah dengan perilaku biasanya mengalami kesulitan untuk dididik di lingkungan kelas yang “tradisional” sehingga prestasi akademiknya rendah dan mereka seringkali didiagnosis mengalami kesulitan belajar. Riset juga menunjukkan gangguan perilaku berhubungan dengan tingkat membolos dan drop out (DO) dari sekolah (Jimerson, et.al., 2002).

Sumber: http://netsains.com/2010/01/cara-cepat-membedakan-adhd-dan-autisme/

Gambaran Klinis Penderita ADHD

Gambaran Klinis
1. Gangguan pemusatan perhatian (inattention)
a. Jarang menyelesaikan perintah sampai tuntas.
b. Mainan, dll sering tertinggal.
c. Sering membuat kesalahan.
d. Mudah beralih perhatian (terutama oleh rangsang suara).

e. Sulit menyelesaikan tugas atau pekerjaan sekolah.

2. Hiperaktivitas
a. Banyak bicara.
b. Tidak dapat tenang/diam, mempunyai kebutuhan untuk selalu bergerak.
c. Sering membuat gaduh suasana.
d. Selalu memegang apa yang dilihat.
e. Sulit untuk duduk diam.
f. Lebih gelisah dan impulsif dibandingkan dengan mereka yang seusia.

3. Impulsivity
a. Sering mengambil mainan teman dengan paksa.
b. Tidak sabaran.
c. Reaktif.
d. Sering bertindak tanpa dipikir dahulu.

4. Sikap menentang

a. Sering melanggar peraturan.
b. Bermasalah dengan orang-orang yang memiliki otoritas.
c. Lebih mudah merasa terganggu, mudah marah (dibandingkan dengan mereka yang seusia).

5. Cemas

a. Banyak mengalami rasa khawatir dan takut.
b. Cenderung emosional.
c. Sangat sensitif terhadap kritikan.
d. Mengalami kecemasan pada situasi yang baru atau yang tidak familiar.
e. Terlihat sangat pemalu dan menarik diri.

6. Problem sosial

a. Hanya memiliki sedikit teman.
b. Sering memiliki rasa rendah diri dan tidak percaya diri.

Sumber: http://netsains.com/2010/01/cara-cepat-membedakan-adhd-dan-autisme/

Awas, Lantai Berbahan PVC Tingkatkan Risiko Autis (ADHD)

Awas, Lantai Berbahan PVC Tingkatkan Risiko Autis

Jakarta Perhatian bagi Anda para orang tua. Sebuah penelitian mengejutkan membuktikan bahwa lantai berbahan PVC dapat meningkatkan risiko anak terkena autis.

PVC atau Vinyl merupakan bahan yang telah dikenal sejak dulu. Biasanya PVC digunakan untuk alat-alat rumah tangga seperti pipa hingga bahan dasar lantai. Namun peneliti asal Swedia, Denmark serta Amerika Serikat menemukan sesuatu yang berbeda.

Dikutip dari Independent, Selasa (14/4/2009) para peneliti tersebut bermaksud menemukan penyebab penyakit autis pada anak-anak. Di Inggris, jumlah anak yang menderita autis sudah mencapai 200 ribu. Oleh karena itu, para peneliti merasa perlu mengetahui penyebab gangguan tersebut.

Selain faktor genetik, para peneliti juga menganggap autis dapat disebabkan oleh faktor eksternal, misalnya racun dari polusi.

Dari penelitian itu terbukti bahwa lantai vinyl yang biasa dipakai di rumah-rumah sangat berbahaya. Dalam lantai tersebut bisa terjadi endapan debu yang mengandung phthalates.

Phthalates merupakan bahan kimia yang dapat membuat plastik menjadi lembut dan fleksibel dan telah digunakan selama bertahun-tahun. Di beberapa negara maju, pemakaian bahan kimia ini sudah dilarang karena efeknya yang buruk bagi kesehatan.

Yang berbahaya, debu yang mengandung Phthalates itu bisa tersedot melalui saluran pernapasan. Debu tadi akan berpengaruh pada kandungan di ibu hamil. Dan kebanyakan, mereka kemudian melahirkan anak yang menderita autis.

Phthalates tak hanya ada di lantai PVC, beberapa barang seperti mainan anak, kosmetik, kemasan makanan, farmasi dan perangkat, serta produk pembersih rumah dan bangunan juga mengandung zat kimia berbahaya tersebut. Ayo lebih hati-hati memilih produk rumah tangga Anda!

Sumber: http://www.autis.info/index.php/artikel-makalah/artikel/201-awas-lantai-berbahan-pvc-tingkatkan-risiko-autis

Pantang Menyerah Menemani Anak Autis (ADHD)

Pantang Menyerah Menemani Anak Autis

Jakarta, Tidak ada satu orang tua pun yang menginginkan anaknya terlahir sebagai anak autis. Namun ketika hal itu benar-benar menimpa mereka, tidak ada sikap yang lebih baik lagi selain menerima keadaan mereka apa adanya.

Autis merupakan gejala yang timbul karena adanya gangguan atau kelainan saraf pada otak seseorang. Autis bukanlah suatu penyakit, tapi gejala

Saat ini, banyak orang tua yang khawatir ancaman autis bakal menimpa anaknya. Mereka mulai panik ketika bayi mereka tidak bereaksi keika dipanggil, sering menangis, tidak ada eye contact, tidak tersenyum dan kadang terpukau dengan suatu benda.

Dra. Louisa Maspaitella, M.Psi dari RSAB Harapan Kita pun memaklumi kekhawatiran para orang tua tersebut.

"Saat ini jumlah anak autis di Indonesia banyak sekali, dan wajar saja orang tua ketakutan karena banyak faktor yang dapat menyebabkan seorang anak terkena autis, kita tidak pernah tahu, " ujar psikolog berdarah campuran Jawa dan Ambon tersebut dalam perbincangannya dengan detikhealth.

Dra. Louisa menyebutkan beberapa faktor penyebab autis, diantaranya faktor makanan, psikologi ibu, kurangnya oksigen, bahan-bahan kimia atau obat-obatan dan juga faktor genetik.

"Saya punya seorang pasien anak autis, ironisnya kedua orang tuanya seorang dokter, yang notabennya ahli di bidang medis. Lebih ironisnya lagi, ketiga anak mereka terlahir dalam keadaan autis semua," ungkap wanita yang sehari-harinya disibukkan di RSAB Harapan Kita sebagai ketua tim Poliklinik Parent Education.

Selidik punya selidik, ternyata sang ibu doyan makan kerang yang banyak tercemar oleh limbah zat-zat kimia. "Konsumsi seafood memang sah-sah saja, tapi segala sesuatu yang berlebih memang berakibat buruk," ucap Dra. Louisa.

Dra. Louis, begitu sapaan akrabnya, mengingatkan bahwa ibu hamil memang sangat rentan terhadap berbagai faktor resiko, kesehatan fisik dan psikis pun menjadi dua hal yang harus tetap dijaga.

Terkait dengan autis, gejala lain yang sering menyertai anak autis adalah ADHD. Berbeda dengan autis, Attention Deficit Hyperactivity Disorder atau ADHD ditandai dengan gejala hiperaktif, tidak bisa fokus pada satu kegiatan, tidak bisa diam, sering mengganggu teman dan melakukan akivitas yang jarang dilakukan anak lain pada umumnya.

Anak autis memang bermasalah dalam hal komunikasi dan interaksi sosial, sepertinya mereka memiliki dunianya sendiri. Gejala ADHD pun terkadang hinggap pada mereka, namun tidak semua anak autis disertai dengan gejala ADHD.

"Anak autis belum tentu ADHD, dan begitu pula sebaliknya. Kedua gejala tersebut berbeda satu sama lain. Jika kita ingin tahu apakah seorang anak memiliki gejala ADHD atau tidak, coba dudukkan selama 5 menit saja di depan televisi, pasti ia tidak bisa dan langsung beranjak pergi jika memiliki gejala ADHD," ujar Dra. Louis.

Jika perilaku seorang anak sudah dicurigai sebagai autis atau ADHD, Dra. Louis menyarankan untuk membawanya segera ke dokter atau psikolog.

Orang tua pun harus lebih pintar dan mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada anaknya, faktor apa saja yang memicu perilakunya, tetap menjalin komunikasi dengan anak dan jangan membiarkannya hidup dalam ketidakwajaran.

Namun Dra. Louis pun mengingatkan untuk tidak cepat-cepat memvonis seorang anak hiperaktif. "Tapi jangan salah tanggap juga, anak hiperaktif tidak selalu ADHD. Seorang anak TK umur 5 tahun yang memiliki kemampuan mental sama dengan anak umur 7 tahun, cerdas, aktif dan cepat respon tidak dapat divonis sebagai anak ADHD," ujarnya.

"Yang penting orang tua maupun guru harus tahu apakah perilaku si anak sesuai atau tidak dengan standar usianya. Thomas Alfa Edison aja dianggap bodoh dan dikeluarkan dari sekolah oleh gurunya karena berperilaku aneh, namun justru dialah yang menemukan lampu," tambahnya.

Banyak terapi yang dapat dilakukan untuk menangani anak-anak autis maupun ADHD, diantaranya terapi bicara, okupasi, sensori, diet makanan, floor time, dan lainnya. Namun yag paling penting adalah memberikan terapi sesuai
permasalahannya.

Salah satu cara kreatif yang coba diterapkan Dra. Louis untuk menangani anak ADHD adalah dengan membuat rekaman video. "Orang tua merekam perilaku si anak, kemudian memutarnya kembali untuk membuat si anak tertarik. Lewat video itu, si anak diajarkan perilaku mana yang baik dan mana yang tidak. Bakat, kepribadian dan emosinya pun dapat lebih terpantau. Terapi ini cukup berhasil membuat anak fokus sekaligus mengedukasi anak lewat media yang menarik," ujarnya.

"Orang tua harus kenal dulu penyebabnya apa, dan jangan malu berkomunikasi dengan dokter. Tidak jarang orang tua yang merasa malu dengan keadaan anaknya sehingga membiarkannya begitu saja," ucap wanita yang juga tergabung dalam Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) tersebut.

Penanganan autis memang membutuhkan waktu yang lama, ada yang dapat sembuh dan ada juga yang sulit disembuhkan. "Salah satu pasien saya dapat kembali normal ketika sudah mencapai sarjana. Saya tahu dan melihat sendiri, dibalik kesembuhannya itu ada pengorbanan yang luar biasa dari orang tuanya," ujar Dra. Louis.

"Setiap manusia pasti punya kekurangan, tapi jangan terpaku pada kekurangan itu, lihatlah kelebihannya," demikian ucap Dra. Louis.

Cara berpikir para orang tua pun harus diubah, jangan melihat dari sisi negatifnya saja, tapi lihatlah keadaan tersebut sebagai ladang bagi mereka untuk lebih sabar dan ikhlas.

"Anak autis harus diterima apa adanya, hanya dengan mencintai, menghargai dan dorongan untuk terus belajar, ia akan merasa dicintai pula," ucapnya.

Sumber: http://www.autis.info/index.php/artikel-makalah/artikel/202-pantang-menyerah-menemani-anak-autis

Tips Agar Anak Penderita ADHD Tenang

Tips agar si Kecil Penderita ADHD Tenang

* Lingkungan rumah tenang.
* Suasana kamar teduh.
* Terapkan aturan dengan tegas.
* Sediakan ruangan untuk santai.
* Biasakan anak mengekspresikan emosinya dalam bentuk tulisan atau gambar.
* Piknik ke tempat yang indah dapat membantu anak menanamkan hal-hal positif di dalam pikiran.
* Aturlah pola makan. Hindari konsumsi gula dan bahan makanan berkadar karbohidrat tinggi.
* Ajari anak untuk berlatih menenangkan diri sendiri. Caranya, menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya melalui mulut. Ulangi beberapa kali.

Sumber: http://www.ayahbunda.co.id/Artikel/Psikologi/anak.hiperaktif.butuh.bantuan/001/007/451/355/-/4

Anak ADHD Butuh Bantuan

Anak Hiperaktif Butuh Bantuan
Anak yang tak bisa berhenti bergerak sering dicap nakal. Padahal, mungkin saja ia bukan sembarang nakal tapi ada gangguan pemusatan perhatian.

Nakal adalah ciri dari anak yang menderita Attention Deficit Hiperactive Disorder (ADHD) atau Gangguan Pemusatan Perhatian & Hiperaktivitas (GPPH). Dan, hubungan sosial si penderita dengan lingkungannya memang kerap jadi terganggu.

Masalahnya, jumlah penderita ADHD di Indonesia cenderung terus meningkat. Mengapa?

Bisa cuma aktif. Balita Anda kelihatan aktif? Sebenarnya, itu wajar-wajar saja. Karena, inilah usia di mana anak sedang giat-giatnya mengeksplorasi lingkungannya. Dalam rentang usia itu, balita berada dalam fase otonomi atau mencari rasa puas melalui aktivitas geraknya. Tapi, kalau ia terlalu aktif atau malah hiperaktif, tentu saja ini tidak wajar!

Lalu, kapan anak disebut hiperaktif? Para ahli sepakat menentukan sejumlah kriteria yang menjadi ciri khas. Dan, sebelum memastikannya, akan dilakukan diagnosa berdasarkan panduan sejumlah kriteria yang dibuat oleh Perhimpunan Psikiater Anak di Amerika Serikat, yakni Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders ( DSM). Yang terbaru saat ini adalah DSM Seri 4

Untuk gampangnya, ADHD bisa digolongkan menjadi beberapa tipe. Kalau anak memiliki kriteria konsentrasi buruk dan hiperaktif, maka gangguannya disebut ADHD tipe kombinasi. Jika kriterianya sulit berkonsentrasi, anak termasuk penderita ADHD tipe sulit konsentrasi. Lalu, anak yang menunjukkan perilaku hiperaktif dan impulsif saja tergolong sebagai penderita ADHD hiperaktif-impulsif.

Kadang-kadang, ada juga anak yang sekilas kriterianya mirip ADHD. Tapi, setelah diperinci satu demi satu, ternyata tidak ada yang cocok. Nah, ini termasuk ADHD tidak tergolongkan

Usia 3, 5 - 7 tahun yang rawan. Sebenarnya, gangguan ADHD tidak begitu sulit dideteksi. Karena, ciri-cirinya begitu khas; yakni sulit berkonsentrasi dan hiperaktif maupun impulsif pada setiap situasi. Dan, gangguan perilaku itu kerap menyebabkan anak gagal melakukan aktivitas dalam kehidupan sehari-harinya.

Meski begitu, Anda tidak bisa begitu saja mengatakan kalau anak Anda pasti menderita ADHD, semata-mata bermodalkan ketiga ciri utama itu. Balita Anda masih harus memiliki enam dari sembilan kriteria yang ditetapkan dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders. Ketiga ciri utama ADHD sebenarnya sudah bisa diketahui sebelum anak berusia tujuh tahun.

Orang tua musti kompak. Yang pasti, penanganan anak penderita ADHD, baik dalam bentuk terapi perilaku maupun terapi obat, tidak akan memberikan hasil yang optimal bila tidak ditunjang oleh sikap kedua orang tuanya. ADHD adalah satu-satunya gangguan perilaku yang paling mudah ditangani dan bisa diobati. Namun, penanganan harus sedini mungkin. Dan, ini dimungkinkan bila Anda dan pasangan cepat tanggap dan menyadari bahwa perilaku anak berlebihan. Dari sini, segeralah berkonsultasi pada ahlinya.

Sumber: http://www.ayahbunda.co.id/Artikel/Psikologi/anak.hiperaktif.butuh.bantuan/001/007/451/355/-/4

Manifestasi Perilaku ADHD

Manifestasi Perilaku

1. Kurangnya kemampuan memusatkan perhatian dapat muncul dalam perilaku:
a. Ketidakmampuan memperhatikan detil atau ceroboh
b. Kesulitan memelihara perhatian terhadap tugas atau aktivitas bermain
c. tidak perhatian saat bicara dengan orang lain
d. Tidak mengikuti perintah dan gagal menyelesaikan tugas
e. sulit mengorganisasikan tugas dan aktivitas

2. hiperaktivitas-impulsivitas sering muncul dalam perilaku:

a. gelisah /tidak tenang di tempat duduk
b. sering meninggalkan tempat duduk di kelas / situasi lain dimana seharusnya duduk tenang
c. berlari atau memanjat berlebihan, selalu terburu-buru atau bergerak terus seperti mesin
d. kesulitan bermain/terlibat dalam aktivitas yang menyenangkan
e. sering menjawab pertanyaan sebelum selesai. (Impulsivitas), berbicara terlalu banyak
f. sulit menunggu giliran (Impl) menyela atau memaksakan pendapat kepada orang lain (Imp)

Sumber: http://www.psikomedia.com/art/artikel.php?id=14

Anak-anak ADHD Beresiko Tinggi Dalam Penyalahgunaan Narkoba

Anak-anak di Tinggi ADHD Risiko Penyalahgunaan Narkoba
Kurang perhatian anak-anak lebih cenderung menggunakan narkoba ketika mereka remaja.
By Colin Allen , published on August 01, 2003 Oleh Colin Allen, diterbitkan 01 Agustus, 2003

Anak-anak yang memiliki kesulitan membayar perhatian mungkin dalam untuk lebih banyak kesulitan selama masa remaja. Gangguan attention-deficit/hyperactivity meningkatkan risiko penyalahgunaan zat pada remaja, menurut sebuah studi baru-baru ini.Peneliti menemukan bahwa para remaja mulai menggunakan obat-obatan, alkohol dan nikotin lebih awal dan lebih sering daripada teman-teman sebaya mereka terfokus. Studi menunjukkan bahwa kekurangan perhatian kesulitan mungkin terbukti sama pentingnya dengan riwayat keluarga alkohol atau masalah penyalahgunaan bahan lainnya.

"Anak-anak dengan ADHD dikenal karena tidak melakukan dengan baik di sekolah," kata Brooke Molina, seorang psikolog dari University of Pittsburgh, "Mereka cenderung jatuh dari budaya mainstream."

Molina dan rekan-rekannya merekrut 142 remaja antara usia 13 dan 18 tahun yang sebelumnya mengunjungi universitas Attention Deficit Disorder Clinic ketika mereka masih muda.Mereka juga merekrut kelompok kontrol dari 100 remaja yang belum didiagnosis dengan gangguan ini.Mereka mewawancarai kedua kelompok tentang obat apa pun kebiasaan yang telah mereka kembangkan.

Setiap kelompok mengatakan mereka telah menggunakan obat-obatan, tapi remaja dengan ADHD adalah tiga kali lebih mungkin untuk menggunakan obat ilegal selain ganja. Mereka melaporkan lebih banyak minum, merokok dan narkoba. Sejumlah 72 persen ADHD masih remaja mereka.

"Mereka yang memiliki gejala yang paling parah di mana yang paling berisiko," catatan Molina. Yang 26 persen yang mengalami masalah kekurangan perhatian lima kali lebih mungkin untuk menggunakan obat-obatan terlarang.

"Pengobatan dengan obat-obatan dan perilaku manajemen telah terbukti paling efektif jenis perawatan," jelas Molina. "Orangtua yang memiliki anak dengan ADHD harus memiliki aturan jelas dan konsisten serta komunikasi yang baik dengan mereka."

ADHD ditemukan dalam 3 sampai 5 persen anak-anak usia sekolah. Molina berharap untuk melanjutkan penelitian untuk melihat bagaimana dampak gangguan orang-orang di masa dewasa. Penelitian ini diterbitkan dalam edisi Agustus Journal of Abnormal Psychology.

Sumber: http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en|id&u=http://www.psychologytoday.com/articles/200308/adhd-kids-higher-risk-drug-abuse

Treatment ADHD Pada Orang Dewasa

TREATMENT


Perencanaan treatment untuk gangguan ADHD pada orang dewasa berupa;
• Konsultasi pada tenaga profesional
• Pemberian informasi mengenai gangguan ADHD
• Medikasi
• Support group
• Psikoterapi peningkatan self esteem
• Pelatihan mengorganisir kemampuan dalam dirinya
• Konseling pendidikan dan vokasional
• Pengorganisasian kerja atau kuliah

Medikasi
Pemberian obat jenis stimulant Strattera (atomoxetine) pada orang dewasa, sama halnya dengan pada anak-anak, dilaporkan memberikan kontribusi positif pada orang dewasa.

Bila disertai dengan gangguan kecemasan juga disertai dengan pemberian Effexor (Venlafaxine), Wellbutrin (Bupropion). Obat antidepressant tersebut juga apat mengurangi perilaku impulsif merokok pada pasien ADHD.


Psikoterapi
Psikoterapi diberikan untuk Psikoterapi diberikan pada individu untuk meningkatkan skillnya dalam menyelesaikan tugas-tugasnya. Terapis juga membantu individu dalam menyusun perencanaan secara teratur seperti membuat agenda, list, kalender atau beberapa catatan penting yang harus dilakukan pada tempat-tempat yang mudah dibaca individu.

Dalam psikoterapi juga akan diberikan manajemen mengatur emosi seperti mengendalikan amarah, mengendalikan rasa cemas, meningkatkan motivasi, dan beberapa perilaku lainnya yang dapat memperburuk gejala yang ada.

Simtom ADHD Pada Orang Dewasa

SIMTOM

Diagnosa gangguan ADHD pada orang dewasa sulit dilakukan, hal yang mudah ditemukan gejala bila individu tersebut pernah didiagnosa mengalami gangguan ADHD semasa kecilnya.

Secara umum gejala ADHD pada orang dewasa;
- Memiliki diagnosa ADHD dimasa kanak-kanak
- Impulsif
- Pikiran mudah kacau, sulit berkonsentrasi, dan mudah terganggu
- Mudah merasa lelah
- Riwayat kegagalan masa sekolah
- Pelbagai permasalahan yang muncul pada pekerjaan
- Meningkatkan kecelakaan
- Mudah cemas
- Kesulitan dalam belajar
- Gangguan afektif
- Rendah penghargaan diri

Untuk diagnosa secara tepat diperlukan pelbagai informasi yang mendukung diagnosa, seperti informasi dari orangtua, sekolah atau teman, disamping itu diperlakukan serangkaian test lainnya. Test psikologi dapat digunakan Conners Rating Scale dan Brown Attention Deficit Disorder Scale, dan juga diperlukan riwayat kehidupan individu untuk memperkuat diagnosa.

Sumber: http://www.pikirdong.org/psikologi/psi61adhd-de.php

ADHD Pada Orang Dewasa

ADHD Pada Orang Dewasa

ADHD tidak saja mengidap pada anak-anak, sebagian besar gangguan tersebut tetap dibawa sampai dewasa. Secara umum, orang dewasa tidak menyadari adanya gangguan ADHD dalam dirinya, mereka hampir tidak merasakan adanya gangguan tersebut. Hal lainnya yang mempengaruhi kepercayaan itu bahwa dirinya beranggapan kemungkinan adanya kecemasan atau barangkali mengalami depresi. Akibatnya gangguan ADHD kadang jarang sekali terdeteksi pada orang dewasa.

Diagnosa ADHD pada orang dewasa diambil secara hati-hati oleh tenaga profesional, pengumpulan data dilakukan berdasarkan riwayat hidup berupa case history, informasi dari teman dan kampus atau ditempat kerja secara bersamaan. Tenaga profesional juga akan menlakukan serangkaian test berupa, test fisik, test psikologi atau beberapa kondisi lain seperti kemampuan belajar, kecemasan atau gangguan afeksi.

Dampak ADHD pada orang dewasa berakibat pada rendahnya pendidikan dan prestasi yang ditempah selama kuliah, tantangan pada hubungan interaksi dengan orang lain, pikiran-pikiran antisosial, dan rendahnya self esteem. Individu dengan ADHD juga rentan dalam gangguan depresi, gangguan bipolar, atau gangguan kecemasan.

Gangguan ADHD sebenarnya lebih banyak mengidap pada anak-anak, namun penelitian akhir-akhir ini menunjukkan bahwa 2-3 anak yang pernah didiagnosa mengalami gangguan ADHD pada masa kecilnya akan membawa gangguan tersebut sampai dewasa. Akan tetapi bila tidak ditemukan riwayat ADHD pada masa kanak-kanak atau individu yang tidak terdiagnosa ADHD sebelumnya, kebanyakan mereka tidak terdeteksi secara tepat, artinya kesalahan dalam diagnosa yang lebih memfokuskan pada gangguan belajar, problem pada cita-cita atau bahkan gangguan kepribadian.

Kesalahan diagnosa bisa disebakan oleh adanya pelbagai permasalahan lainnya seperti kesulitan dalam menjalin persahabatan, kontrol emosi (amarah), depresi, dan penyalahgunaan alkohol.

Oleh sebab itu tenaga profesional harus mengambil beberapa informasi akurat sebelum memutuskan diagnosa ADHD secara meyakinkan, informasi dari angota keluarga, teman dan pihak sekolah sebelumnya diperlukan untuk memperkuat diagnosa.

Sumber: http://www.pikirdong.org/psikologi/psi61adhd-de.php

Treatment ADHD Pada Anak-Anak

TREATMENT


Studi yang begitu lama membuktikan bahwa kombinasi antara obat-obatan dan psikoterapi (behavioral therapy) dan manajemen medikasi yang tepat, terapi yang intensif dan komunitas treatment yang rutin telah menolong anak-anak dengan gangguan ADHD menjadi lebih baik. Menurunnya intensitas kecemasan, membaiknya penampilan di sekolah, meningkatnya kualitas hubungan antara orangtua-anak, meningkatkan kemampuan sosial merupakan keuntungan pemberian treatment secara dini, tentunya dengan medikasi yang rendah dosis.

Kadang beberapa anak menunjukkan efek buruk dari medikasi, oleh karenanya perlunya pengawasan ketat dalam pemberian obat-obatan, apalgi bila anak tersebut disertai dengan gangguan kecemasan dan depresi. Haruslah berhati-hati dalam memberi obat-obatan medis

a) Medikasi
Jenis obat simultan berguna menurunkan gejala hiperaktif dan kompulsif, beberapa anak juga dilaporkan meningkatnya konsentrasi, pekerjaan dan belajar. Selain itu obat jenis simultan juga meningkatkan koordinasi tubuh sehingga anak tidak menemui kesulitan dalam melakukan pekerjaan tangan atau berolahraga.

Jenis simultan dianggap paling baik, dalam dosis yang rendah tidak akan membuat anak seperti “fly”. Selama pemberian obat dalam dosis rendah dan terkontrol jenis simultan ini dianggap tidak menimbulkan adiktif. Dalam treatmen juga diusahakan manajemen pemberian obat-obatan, misalnya seminggu sekali atau pada waktu siang hari.

Jika dalam seminggu tidak memberi pengaruh meningkatkan performance, dokter akan meningkatkan dosis, jika tidak juga memberi pengaruh maka dokter akan mengganti dengan obat jenis lainnya.





Obat yang digunakan untuk gangguan ADHD pada anak-anak



Nama Obat


Nama Generik


Peruntuk


Adderall
Adderall XR


amphetamine


3 > Tahun

Concerta


methylphenidate


6 > tahun

Cylert


pemoline


6 > tahun

Daytrana


methylphenidate


6 > tahun

Dexedrine
Dextrostat


dextroamphetamine


3 > Tahun

Focalin


dexmethylphenidate


6 > tahun

Metadate ER
Metadate CD


methylphenidate


6 > tahun

Ritalin


methylphenidate


6 > tahun

Strattera


atomextine


6 > tahun

Vyvanse


lisdexamfetamine


6 > tahun


Cylert mempunyai pengaruh buruk terhadap fungsi ginjal, oleh karenanya obat ini tidak diberikan pada awal-awal terapi






b) Psikoterapi

Behavior therapy
Terapi ini berguna untuk meningkatkan kemampuan pada anak, pada terapi ini orangtua terlibat langsung dalam terapi, misalnya memberikan penghargaan terhadap perilaku yang positif yang ditujukkan oleh anak. Ketika anak mulai kehilangan kontrol, orangtua mengambil time out, dan menyuruh anak untuk diam di kursinya sampai ia menjadi tenang. Tujuan dalam terapi ini juga mengajarkan anak untuk mengenal muatan-muatan emosinya. Terapi juga mengajarkan orangtua teknik-teknik bersenang-senang dengan anak ADHD tanpa harus merasa tertekan.

Social skills training
Dalam pelatihan ini anak belajar cara-cara menghargai dan menempatkan dirinya bersama dengan kelompok bermainnya. Pelatihan ini juga anak diajarkan kecakapan bahasa nonverbal melalui insyarat wajah, ekspresi roman, intonasi suara sehingga anak cepat tanggap dalam pelbagai situasi sosial. Disamping itu anak juga diajarkan untuk belajar mengendalikan impuls misalnya dilatih untuk menunggu giliran bermain, berbagi mainan dengan temannya, Pelatihan ini juga diharapkan anak dapat mengontrol perilaku amarah yang tidak terkendali.

Family support groups
Merupakan kelompok orangtua yang memiliki anggota keluarga dengan gangguan ADHD untuk berbagi pengalaman. Kelompok ini juga saling menyediakan informasi bagi sesama anggotanya, mengundang pembicara profesional untuk berbagi pengetahuan dalam menghadapi dan membesarkan anak-anak mereka.

Sumber: http://www.pikirdong.org/psikologi/psi60adhd-an.php

Simtom ADHD Pada Anak-Anak

SIMTOM

Gejala diagnosa bila 6 gejala atau lebih menetap minimal selama 6 bulan atau lebih yang berpengaruh pada tingkat perkembangan mental;

1) Gejala gangguan tipe atensi

a) Sulit berkonsentrasi, mengorganisir tugas, atau mempersiapkan peralatan untuk tugas
b) Mudah terpengaruh atau kehilangan konsentrasi bila ada faktor gangguan atau suara
c) Tidak mampu berkonsentrasi pada hal-hal detil atau mengikuti instruksi
d) Sering membuat kesalahan pada tugas disekolah atau aktivitas tertentu
e) Gagal dalam menyelesaikan tugas-tugas penting di sekolah
f) Mudah lupa
g) Seperti tidak menyimak pembicaraan, terlihat lesu atau kurang bergairah dan sering melamun


2) Gejala gangguan tipe hiperaktif-kompulsif

a) Selalu terlihat aktif, ingin melakukan sesuatu
b) Gelisah, selalu melipat tangan atau kakinya ketika duduk
c) Tidak bisa diam, selalu ingin bergerak
d) Pada anak relatif kecil suka berlari, melompat dan memanjat secara konstan
e) Berbicara setiap waktu
f) Langsung menjawab sebelum pertanyaan selesai diajukan
g) Tidak sabar dalam menunggu giliran
h) Suka menyeletuk pembicaraan orang lain


3) Tipe kombinasi antara gangguan atensi dan hiperaktif-kompulsif


Setiap anak yang diduga mengidap gangguan ADHD haruslah hati-hati dalam kesimpulan diagnosa, karena simtom yang ada bisa saja menyerupai seperti gangguan ADHD akan tetapi sebenarnya anak tersebut bisa saja dalam kondisi medis tertentu, atau dalam situasi stress yang dapat mempengaruhi perilakunya menyerupai gangguan ADHD. Oleh sebab itu kondisi tersebut haruslah didiagnosa oleh tenaga profesional yang sudah berpengalaman dibidangnya.

Dalam melakukan diagnosa, tenaga profesional (bahkan terlibat beberapa bidang ahli di dalamnya seperti; psikiater, psikolog, dokter anak, neurologis, tenaga sosial) akan melakukan assessment secara klinis dengan melihat akademik dan situasi sosial anak, fungsi emosi dan kemampuan dalam perkembangan.

Sumber: http://www.pikirdong.org/psikologi/psi60adhd-an.php

ADHD Pada Anak-anak

ADHD Pada Anak-anak

Tanda-tanda adanya gangguan ADHD sebenarnya sudah dapat dideteksi sejak anak masa pra sekolah. Kurangnya atensi, hiperaktif dan kompulsif merupakan tanda-tanda yang langsung dapat ditangkap adanya gangguan pada anak, misalnya saja anak tidak suka atau kehilangan minat untuk bermain, berlari kesana-kemari dan tidak dapat mengontrol keinginannya untuk menyentuh benda-benda disekitarnya. Bila orangtua menangkap gejala tersebut seharusnya segeralah membawa anaknya ke dokter anak atau psikolog. Penangan secara dini akan memberikan kontribusi perilaku yang lebih baik ketika anak memasuki tahap perkembangan selanjutnya.

Gangguan hiperaktif-kompulsif mungkin secara langsung bisa terlihat pada perilaku anak, namun tidak pada tipe gangguan atensi, anak terlihat dapat bekerjasama dengan orang sekitarnya, sehingga tipe ini kadang terabaikan secara kasat mata.

Untuk mendiagnosa secara tepat, tenaga profesional biasanya akan mengumpulkan data-data secara lengkap untuk memutuskan diagnosis apakah anak tersebut mengidap gangguan ADHD atau tidak, data tersebut berupa;
- latar belakang keluarga anak
- Kemungkinan gangguan pendengaran
- Ketidakmampuan belajar
- Kecemasan dan depresi
- Pengaruh obat-obatan sebelumnya yang memungkinkan terjadinya gangguan otak
- Kondisi fisik seperti kondisi lobus frontal
- Test psikologi (adaptasi sosial, kesehatan mental, test intelligensi, dan test prestasi)
- Situasi-situasi pencetus stress pada anak

Beberapa test lainnya dapat diberikan oleh terapis berupa tes kemampuan membaca, pemecahan matematika, atau beberapa papan permainan. Tenaga profesional kadang juga perlu melakukan obervasi secara langsung dalam kehidupan sang anak. Bila ditemukan adanya gangguan ADHD secara pasti, tenaga ahli akan membicarakan masalah ini kepada gurunya di sekolah, guru juga akan dilibatkan dalam mendiagnosa gangguan tersebut, biasanya guru akan diberikan sebuah form evaluasi (behavior rating scales) perilaku anak untuk diisi oleh guru yang bersangkutan.

Sumber: http://www.pikirdong.org/psikologi/psi60adhd-an.php